Barbie Goceng 's Blog

Ketika Hidup Mengajarkanmu Banyak Hal …

Observasi PPKS di Jalan Flores , Bandung.

Seorang wanita paruh baya terlihat sedang menjemur pakaian di permukaan tanah tanpa di alas oleh selapis plastikpun . Begitulah salah satu rutinitas Ibu Maman berusia 39 tahun yang tampak lebih tua dari usianya yang berasal dari daerah cimindi  , beliau sebagai gelandangan sekaligus sebagai seorang istri bagi Bapak Maman berusia 51 tahun  yang tidak memiliki tempat yang sah untuk melindungi dirinya dan ke-empat anaknya yaitu Rini(12),Rachman(10),Rohidin(6) dan Rina(3). Untuk mencucipun beliau harus  mencuci di got sama seperti halnya  mandi dan lain-lain. begitu juga dengan suaminya yang mencari sesuap nasi dengan mencari sisa-sisa makan orang yang telah dibuang lalu dipungut oleh beliau . Untuk mendapat uang yang tidak banyak ia rela menempuh perjalanan jauh menarik gerobak tua milik beliau yang di dalamnya yaitu putra-putri mereka serta hasil barang pungutan yang memiliki nilai jual tidak seberapa setelah seharian mereka mencari barang bekas , mereka kembali ke rumah tua yang sudah tidak berpenghuni dan telah mereka tempati sekitar 20-tahun semenjak tahun 1998 . Rumah tersebut berada di sekitar jalan Flores .

Keadaan rumah tersebut sudah rapuh dan terlihat menyeramkan , mereka tinggal di teras samping yang sudah tidak terawatt lagi dan dindingnya sudah rusak . menurut beliau,  rumah tersebut merupakan salah satu rumah milik Gayus Tambunan sang koruptor ulung yang sudah dimiskinkan. Bahkan dalam satu tahun kemarin rumah tersebut telah disita oleh pihak kejaksaan sempat beberapa minggu mereka tidak tinggal disitu namun setelah keadaan mereda , mereka kembali ke rumah tersebut. Untuk tidur malam , bapak Maman beserta satu anak laki-lakinya tidur di lantai dengan alas baju-baju usang sementara Ibu Maman dan ketiga ankanya tidur di dalam gerobak dengan alas tikar.

Menurut Ibu Maman , dari pemerintah Kota Bandung sendiri belum ada yang turun tangan untuk menangani gelandangan yang telah berkeluarga seperti beliau . bahkan untuk bantuan-bantuan yang termasuk dalam program pemerintahpun mereka tidak mendapatkannya mungkin salah satu factor penyebabnya adalah mereka tidak memiliki KTP sehingga sulit untuk mendapatkan hak tersebut. Hanya saja banyak mahasiswa yang acapkali mengunjungi mereka untuk di wawancarai. Ketika Mahasiswa datang , yang banyak berbicara adalah Ibu maman karena bapak Maman mengalami kesulitan dalam berbicara.

Beruntung dua anak mereka yang bernama Rini dan Rahman dapat mengenyam pendidikan dengan gratis atas bantuan dari pihak sekolah dan pihak yayasan pendidikan Pasundan , mereka mendapat bantuan biaya pendidika beserta biaya buku dan baju-bajunya.  Ketika Hari raya tiba , keluarga Bapak Maman mengunjungi sanak keluarganya yang berada di Cimindi namun karena keadaannya yang kurang beruntung beliau sering dijauhi dan tidak diedulikan oleh sanak keluarganya .

Senyuman Bapak Maman selalu memancarkan sebuah kehangatan bagi keluarga kecil mereka, tawa canda keempat anak mereka menghadirkan asa dan harapan agar suatu saat roda kehidupan akan berputar , beranjak lebih baik . Berharap agar dunia tidak mencerca dan tidak berlaku kejam lagi terhadap dirinya.  Semangat , usaha dan mimpi akan mewujudkan harapannya .

3 Komentar

  1. sade

    Asyiiik deh selyyy….

    • itu kan narasinya original from shelyks looh😀 .

  2. NIce😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: